APAKAH ANAKKU SUDAH MANDIRI?

17.54 TK Al Irsyad Purwokerto 0 Comments



Bangun pagi, mandi, sholat subuh, pakai baju, sarapan, adalah pekerjaan rutin anak sebelum pergi sekolah. Rentetan pekerjaan itu bisa menjadi rangkaian yang menyenangkan, namun sebaliknya bisa menjadi momok bagi sebagian anak dan orangtua. Ternyata, kuncinya ada pada proses pembelajaran kemandirian
Fajar.., bangun! Sudah jam enam. Kamu mau sekolah apa nggak?” seru Ibu Tuti lantang sambil menarik selimut anak itu.
”Setiap hari Ibu harus teriak-teriak begini. Ayo bangun, mandi, jemputan sekolah sebentar lagi datang!” ulangnya. Ia terpaksa membangunkan Fajar dengan paksa sambil menggotongnya ke kamar mandi, melepaskan baju, dan memandikannya.
Dalam tempo sepuluh menit Ibu Tuti berhasil menyiapkan Fajar berseragam lengkap. Setelah selesai memakai seragam, kini giliran si Bibi yang harus menyuapi Fajar sambil mobil jemputan datang.
Semua berjalan dengan penuh dengan paksaan. Suasana pagi pun menjadi menegangkan segenap anggota  keluarga. Dalam hati kecilnya sebenarnya Ibu Tuti sadar bahwa ’rutinitas’ pagi ini sungguh tak baik bagi perkembangan jiwa Fajar, tapi ia tak tahu harus memperbaikinya dari mana.
Berbeda dengan Nabil, anak seusia Fajar. Setiap hari ia sudah biasa bangun jam lima subuh dengan bantuan jam weaker. Ibu atau Ayahnya cukup membelai pipinya dengan halus sambil membisikkan doa bangun tidur. Angin segar mengalir dari balik jendela kamar yang sudah dibuka lebar oleh Ibu. Lampu kamar pun sudah menyala menandakan semua harus segera bangun dari tempat tidur.
Nabil hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk membuka matanya. Nabil akan segera mengambil handuk, dan mandi. Selesai berpakaian dan sholat subuh ia akan membantu Ibu membereskan kamar. Setelah itu, ia akan pergi ke meja makan dan sarapan bersama Ayah sambil menunggu waktunya berangkat sekolah.

Fitrah Anak Mandiri
Kemandirian adalah keterampilan atau kemampuan yang dapat dilakukan anak sesuai dengan usianya. Jadi, tahapan belajar kemandirian pada tiap anak berbeda-beda. Umumnya anak pada usia tiga tahun sudah mampu bicara saat hendak BAB (buang air besar, menyendok makanan sendiri, melepas dan memakai celana. Usia lima tahun anak sudah mampu memakai baju dengan kancing di depan, mengikat sepatu, dan makan dengan cukup rapi. Dengan pembelajaran kemandirian seharusnya saat usia sekolah, enam tahun ke atas, anak sudah mampu mengurus keperluan untuk dirinya sendiri.
Meskipun secara fitrah anak-anak memiliki kemampuan untuk mandiri, namun orangtua perlu berhati-hati dalam menentukan target kemandirian. Target yang terlalu tinggi akan membuat anak putus asa karena merasa gagal. Akhirnya mengurangi minat anak untuk melakukan ulang perbuatannya. Misalnya, anak usia tiga tahun dipaksa  mampu memakai dan melepas sepatu tali sendiri. Padahal, umumnya di usia itu anak belum mampu melakukannya.
Perlu juga diingat bahwa anak tidak mungkin memiliki tingkat kemandirian yang penuh atau 100%. Sama halnya dengan orang-orang dewasa yang masih membutuhkan orang lain untuk menjalani kehidupan. Artinya, dalam menentukan  target kemandirian orangtua harus cermat dalam menentukan kemampuan anak. Misalnya, ada saatnya anak kita pegang erat saat menyeberang di jalan yang ramai. Namun, di jalan yang sepi, orangtua dapat melonggarkan pegangannya atau bahkan melepasnya dengan tetap memperhatikan kondisi jalanan.
Proses pembelajaran kemandirian dimulai saat anak berusia 1 – 3 tahun. Rentang usia tersebut termasuk dalam masa kritis pembentukan kemandirian anak. Semua anak pada masa itu maunya mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Misalnya, memegang sendok sendiri, menyisir, memakai baju, memakai sepatu. Tapi, karena saat anak makan sendiri berantakan, pakai baju sendiri lama dan tidak rapi. Akhirnya, orangtua langsung mengambil alih pekerjaan tersebut. Disuapi, dipakaikan sepatu. ”Tanpa sadar pengambilalihan pekerjaan itu akan mematikan fitrah kemandirian anak.
Kebiasaan bangun pagi pun sebenarnya sudah ada sejak bayi. Hampir semua bayi sebenarnya biasa bangun pagi. Tangisan bayi di subuh hari biasa meramaikan rumah dan membangunkan segenap anggota keluarga. Bila saat bayi bangun seluruh anggota keluarga sudah bangun dan menjalani aktivitas kebiasaan tersebut akan tetap terpelihara sampai ia besar. Namun, bila orangtua masih belum beranjak dari tempat tidur atau bahkan menidurkan bayi kembali dengan harapan dapat meneruskan istirahatnya, bayi pun akan biasa bangun siang.

Mandiri, untuk apa?
Kemandirian anak sangat penting bagi perkembangan jiwa anak karena akan menimbulkan tingkat kepercayaan diri anak. Anak yang memiliki kepercayaan diri akan merasa mampu. ”Saya mampu, saya bisa!” Dampaknya, anak memiliki semangat untuk melakukan aktivitasnya, dan memiliki keinginan untuk banyak mencoba sesuatu yang baru dan meningkatkan prestasinya. Selain itu, manfaatnya juga sangat terasa bagi kehidupan anak di masa depan karena ia memiliki kesepakatan untuk mencoba banyak hal positif.

Mengapa belum mandiri?
Anak yang belum mandiri untuk ukuran anak seusianya harus segera mendapat penanganan khusus dari orangtua. Pertama orangtua harus mencari penyebabnya. Kedua, mencari solusi sesuai dengan penyebabnya.
Misalnya, anak yang susah bangun pagi. Cobalah perhatikan, apakah istirahatnya cukup. Atau, apakah kesehatannya sedang terganggu. Bila penyebabnya kurang istirahat berarti harus dicukupkan waktu istirahatnya. Bila karena alasan kesehatan berarti kondisi kesehatannya harus diperbaiki terlebih dahulu.
Bila penyebabnya karena kelalaian orangtua dalam mengajarkan kemandirian atau karena kurang konsisten dalam proses pembelajaran berarti orangtua harus mengulang prosesnya dari awal. Mulai dari pengenalan penjelasan, dan pengulangan-pengulangan.
Pembiasaan sejak dini, sangat penting bagi anak: Jangan selalu melarang keinginan anak misal: mandi, makan, merapihkan mainan, anak ingin mengerjakan sendiri, mungkin mulanya akan berantakan tidak bersih dsb. Tetapi istilah belajar lama kelamaan anak akan terbiasa, tentunya dengan bimbingan orang tua.
Yang tak kalah penting adalah penyediaan sarana pembelajaran kemandirian. Misalnya, bila tinggi anak baru 100 cm, maka sediakanlah lemari yang sesuai dengan tinggi anak agar ia mampu mengambil baju dengan mudah. Begitu pula wastafel, tempat air di kamar mandi, tempat sabun, dan peralatan lainnya. Terakhir, namun sangat penting adalah diperlukan kesabaran orangtua dalam proses pembelajaran ini.

 -- //--

Oleh :  Sri Asih, S.Pd.AUD

You Might Also Like

0 komentar: